Dalam dunia medis, jatuh cinta diartikan sebagai suatu peristiwa yang dipengaruhi oleh hormon. Pertama, hormon yang membuat kita merasakan seperti sedang ‘kecanduan’. Seperti halnya meminum secangkir kopi pagi ini, lalu esoknya, dan esoknya lagi. Seakan-akan tidak ada pagi tanpa secangkir kopi. Kedua, hormon yang membuat kita merasa berdebar-debar, telapak tangan berkeringat, denyut jantung tidak karuan. Persis seperti saat seseorang terlalu banyak menenggak kopi. Lalu yang ketiga, ada hormon yang berkurang jumlahnya, hormon yang membuat kita terasa mengantuk. Sehingga saat kita jatuh cinta, mengantuk akan jarang sekali kita rasakan. Yang ada hanya rasa berdebar dan susah tidur, melamun di malam hari tanpa alasan yang pasti. Dan lagi, sama seperti secangkir kopi, yang membangunkan orang dalam tidur lelapnya. Lantas, bolehkah aku menganggapmu sebagai secangkir kopiku?
Seperti secangkir kopi yang butuh proses dalam membuatnya, jatuh cinta juga begitu. Seperti secangkir kopi yang membutuhkan komposisi-komposisi di dalamnya, jatuh cinta juga begitu. Seseorang pernah berkata, ia tidak menyukai gula di dalam kopi hitamnya, karena ia tidak ingin memberi rasa manis dalam hal-hal yang memang di kodratkan pahit. Tapi, mungkin orang itu salah. Toh cinta itu juga pahit, tapi tetap ada rasa manis di dalamnya, kan?
Saat harum hujan, bau tanah, dingin menyerbu. Dimana kamu? Sungguh ada yang sedang merindu, menatap lekat-lekat potongan pizza di hadapannya. Ah! Black pepper adalah favoritmu.
Komentar
Posting Komentar