Postingan

Menampilkan postingan dengan label Poems

Cakrawala

"Kali ini cakrawala membencimu."

Bisu

Debur ombak itu seakan berbicara, Pada tepi pantai yang dihampirinya. Namun semua terasa bisu. Semua sungguh mengharu biru. Hening, hening. Tidak ada yang bergeming. Pagi, siang, sore, senja dan malam. Lautan hatiku sudah temaram. Cinta, sampai kapan aku harus menunggumu pulang? Apakah sampai jiwaku usang?

Purnama

Malam-malam gelap, dan angin malam. Udara dingin, dan kesunyian. Bintang-bintang kebahagiaan di malam itu, tertutup awan hitam ketakutanku. Belasan purnama telah terlewati, tak satupun darinya yang kau temani. Cahaya purnama malam itu, Bersinar dibalik awan hitam, Dan rinduku, Dan gelap malam. Dingin menyergap sekujur tubuhku, Kaku, Aku kaku. Yang kulihat di sudut matamu bukanlah aku.

Rasa

Aku rasa aku kuat, tapi nyatanya aku lemah. Aku rasa aku sanggup, tapi nyatanya aku tidak sanggup. Aku rasa aku berani, tapi nyatanya aku takut. Apa artinya ini? Silahkan kau artikan sendiri.

Batas

Semua perihal diciptakan sebagai batas Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin Besok batas hari ini dan lusa Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara, dan kantor wali kota,  juga rumahku, dan seluruh tempat di mana pernah ada kita Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata Begitu pula rindu Antar pulau dan seorang petualang yang gila Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur Apa kabar hari ini? Lihat tanda tanya itu  Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi   Aan Mansyur

Lautan Dirimu

Risau suara debur ombak, Risih suaranya membelah tepi lautan. Tiap buih-buihnya menepi, menyampaikan sabda-sabda rindu dari dalamnya laut. Pasir-pasir putih menerima buihnya, tak pelak bertanya, jujurkah buih lautan yang didapatnya. Pasir-pasir itu terus saja terbuai, terhapus oleh deburan ombak, hingga ia turut berada pada dalamnya laut. Tenggelam, tenggelam. Dan aku melemah, Aku terlanjur tenggelam pada dalamnya matamu.

Teh Hari Ini

Teh hari ini rasanya hambar sekali, aku tidak suka. Makin dikecap makin hambar, makin dirasa makin pahit saja.

Kue Bolu

Aku mau pesan kue bolu, Aku minta satu dulu. Jangan diberi tambahan gula, Aku mau coba dulu rasanya. Ini pesan lagi, Kata pelayan itu. Tidak, tidak. Aku menolak. Aku hanya mau satu potong kue bolu, Yang kunikmati rasanya sampai potongan terakhir, Yang kunikmati hingga akhir. Mari, mari. Pesan lagi kue bolu yang baru, Kata pelayan itu. Tidak, aku tidak mau. Terus begitu kataku. Kenapa? Kue bolumu sudah tak lezat rupanya. Kata siapa tidak lezat? Aku yang merasakan, ini sungguh lezat. Ayo, ayo. Pesan saja kue yang baru, Lagi-lagi, Kata pelayan itu. Aku tidak mau! Hentakku sekali lagi, pada pelayan itu. Kalau kueku hambar, aku sendiri yang menambahkan gulanya, Gula jawa, gula pasir, gula batu, Sebut, apa maumu! Kalau rasanya hambar ia tak ku buang, Akan kuberi gula sampai gurih kembali rasanya. Sampai rasanya jadi manis sekali, Hingga aku butuh tambahan insulin lagi.

Lucu

Kadang-kadang manusia itu lucu, Bilang "ah, aku tidak suka dia!" Lalu kemudian kita bisa melihat mereka jalan berdua. Bilang "sudah, pergi sana!" Lalu kemudian mencari-cari dia ada dimana. Bilang "aku akan serius kali ini." Lalu kemudian lupa dan tidak serius hingga detik ini. Bilang "ah, nanti saja, akan aku kerjakan, aku tidak akan lupa." Lalu kemudian perlahan lupa. Bilang "aku tidak suka dia, bukan seleraku." Lalu kemudian diam-diam menjadikan dia candu. Ah, Banyak sekali, Tiada habisnya. Tidak apa-apa, Asal dari kelucuan-kelucuan itu, Ada salah satu yang kamu lontarkan untukku. Seperti apa itu? "Ah kamu bukan tipeku!" Lalu kemudian jadi terus-terusan mencari aku.

Apakah

Apakah, api yang membakar kayu-kayu itu menjadi abu, pernah bertanya rasanya ketika ia bakar, ketika ia hancurkan, Apakah, angin yang menjatuhkan, dan memisahkan daun-daun, dari rantingnya, pernah bertanya rasanya dijatuhkan, dibuat jauh dari yang membuatnya menjadi hidup, Apakah, ombak-ombak di lautan, pernah bertanya, pada buih-buih yang dimilikinya, rasanya menjadi bait dalam puisi, tapi tidak dimaknai sepenuh hati, Apakah, kamu, pernah bertanya, pun dengan diksi yang berbeda, bermakna sama, kepada ku?

Perkara Kebaikan

Kamu senang dia bisa membantumu, padahal itu juga karena kamu pernah membantunya. Kamu senang ada yang memperhatikanmu, padahal itu karena kamu memperhatikannya. Kadang-kadang kita lupa, dampak baik melakukan kebaikan. Kamu suka membantu orang lain, Kamu suka menolong orang lain, dengan pekerjaannya, dengan mendengar keluh kesahnya, dengan memahami masalah yang dihadapinya, dengan tidak berkomentar jahat terhadap apa yang menimpa dirinya, pun pada yang ditimpakannya pada orang lain. Kadang-kadang kita lupa, kebaikan bisa dilakukan dengan cara apa saja. Kamu senang dia selalu menerimamu, Kamu senang dia selalu bertutur kata dengan baik padamu, itu karena kamu juga berlaku begitu. Tapi, kebaikan tidak selalu menunggu kamu-melakukan-sesuatu-lalu-dibalas-pula-dengan-cara-itu. Kebaikan yang kita, dia, atau siapapun lakukan, pun harus tulus dari hati, dari kemauan diri. Kalau kamu berlaku baik tapi tidak direspon baik, jangan berkeluh kesah, jangan gelisah. Bar...

Sendu

Kau sungguh: Menciptakan luka-luka menggores hati, Masuk hingga ke sanubari. Merubah syair-syair malam, menjadi sendu, Merebut tahta rindu. Kau melukai, aku. mengusik kalbu.

Verbatim: Tere Liye

Karena kita tidak bisa melihat penjelasan di hati orang lain, maka bukan berarti penjelasan itu tidak ada. Karena kita tidak bisa melihat keindahan pada sesuatu, maka bukan berarti tidak ada indah di sana. Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal yang tidak bisa kita lihat. Coba periksa, ketika orang lain tidak bisa melihat betapa rindunya kita pada seseorang, maka bukan berarti rasa rindu itu tidak ada, bukan? Ketika orang lain tidak bisa melihat betapa sakitnya hati kita, maka bukan berarti rasa sakit itu tidak ada, bukan? [Kutipan oleh Tere Liye]

Sejuk

Embun, Bau hujan, Bau tanah, dan dingin di sore itu.

Luka Luka

Kadang kita tidak butuh kata, untuk membuat luka. cukup: diamkan saja, sudah mampu menyiksa.

14 April 2018 ; 09.40 PM - Indonesia, bagian tengah.

Pernah membaca, tapi lupa: ntah darimana. "Kalau beda pulau membuat kita rindu, belum tentu satu kota membuat kita jumpa. Kadang kita lupa, berjumpa itu tentang usaha, bukan tentang jauh dekatnya kita."

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini Ada yang masih ingin ku pandang Yang selama ini senantiasa luput Sesaat adalah abadi Sebelum kau sapu taman setiap pagi Hujan di Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan Juni Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan Juni Dihapuskannya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif Dari hujan bulan Juni Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu -Sapardi Djoko Damono

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. -Sapardi Djoko Damono

Frase

"Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan." -Aan Mansyur, Ada Apa Dengan Cinta 2.

Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu Atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela berbulan-bulan tidak dibersihkan Atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan Atau bangku-bangku taman yang kosong Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota Seperti perpusta ka an sastra Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang keluar atau terlalu matang Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong Saat aku pulang dengan kamera di kepala berisi orang-orang pulung yang tidak ku kenal Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar Buku cerita yang belum kelar kau baca Bertumpuk bagai kayu lapuk di dadaku Tidak sopan kataku mengerjakan hal-hal tapi tetap kesedihan Akhirnya kau hilang, kau meninggalkan aku Dan kenangan ini...