Organisasi
Kebanyakan orang saat ada open recruitment kepanitiaan atau organisasi, terus ditanya alasan ikutnya apa, mayoritas akan menjawab "Mencari pengalaman." Padahal, mungkin saja ada banyak jawaban lain yang bisa dipakai selain "Mencari pengalaman" itu sendiri.
Orang-orang ramai berbondong-bondong ikut kegiatan, aktif disana-sini. Ntah untuk cari pengalaman, ingin menjadi organisator dengan segudang daftar organisasi dan kepanitiaan yang pernah diikuti, iseng-iseng saja, cari aktifitas agar punya kesibukan, atau mencari SKP di jenjang perkuliahan, sebagai syarat wisuda.
Sebenarnya, yang terpenting itu bukan seberapa banyak kita mengikuti suatu organisasi, suatu kegiatan, suatu lembaga, atau hal-hal lain yang serupa. Tapi seberapa banyak dampak yang kamu tinggalkan untuk hal-hal di sekitar kamu, termasuk urusan organisasi itu.
Contoh, kamu mengikuti organisasi di sekolah, atau di kampus.
Lantas kamu bisa mendapatkan keuntungan seperti anggap saja pengalaman, ntah cara membuat proposal, menulis surat, berinteraksi dengan orang baru, mengurus sponsorship, mengurus rundown, dan sebagainya. Tapi kamu juga harus bisa meninggalkan karya nyata yang dipakai secara berkesinambungan, ntah itu desain, konsep atau title untuk sebuah acara, atau cara organisasi itu merubah pola pikir dalam menjalankan organisasinya.
Kalau hanya sekedar berorganisasi, masuk, ikut sampai selesai, rasanya semua orang juga bisa. Tapi bagaimana kita sebagai organisator bisa meluruskan hal-hal salah dari organisasi, ntah peraturan yang terlalu kaku, kepercayaan yang tidak terbangun, organisasi tanpa jati diri, dan sebagainya.
Jadi, yang terpenting memang bukan "seberapa banyak" organisasi yang diikuti, lalu terlihat sibuk dan aktif disana-sini. Namun bagaimana kita bisa "meninggalkan" pengaruh baik dalam organisasi, dalam hal apapun.
Menulis karena terinspirasi,
Mataram, 10 Juni 2018.
Komentar
Posting Komentar